Sponsored

Showing posts with label Demam. Show all posts
Showing posts with label Demam. Show all posts

Telapak Tangan Bukan Termometer!

Menempelkan telapak tangan ke dahi di Buyung atau si Upik bukan cara tepat untuk menggolongkan suhu badannya panas, normal, atau dingin.

Naiknya suhu tubuh bukan serta merta petunjuk ia harus diminumi obat turun panas. Dr. Paul Zakaria daGomez, ahli imunologi, menguraikan duduk persoalannya, termasuk kapan obat turun panas diperlukan.

Setiap hari televisi menyuguhkan pelbagai macam iklan obat penurun panas. Semuanya mengklaim serba cespleng! Orang tua mana yang tidak cemas kalau anaknya menderita panas? Nomor satu pasti buru-buru mencari obat penurun panas, entah dari lemari obatnya sendiri, beli di warung, atau minta tetangga.

Setiap kali anak kita tidak enak badan, pasti gerakan refleks kita langsung menempelkan tangan ke dahi atau lehernya. Tapi telapak tangan sebagai alat pengukur panas sebenarnya bersifat sangat subyektif. Artinya, ia tidak dapat digunakan sebagai patokan untuk menggolongkan apakah suhu seseorang panas, normal, atau dingin.

Seseorang dengan metabolisme tubuh rendah atau menderita anemia di mana suhu tangannya lebih dingin, akan lebih peka bila meraba seseorang yang suhu tubuhnya tinggi dibandingkan dengan mereka yang metabolisme tubuhnya normal dan suhu tangannya lebih hangat. Karena tingkat metabolisme dan mekanisme sirkulasi darah tiap individu bervariasi, sudah tentu mengukur suhu badan seseorang dengan punggung telapak tangan tidaklah tepat.

Karena itu setiap keluarga hendaknya menyediakan termometer air raksa yang harganya relatif murah. Alat pengukur panas ini lebih bisa diandalkan. Dalam keadaan sangat mendesak data tersebut bahkan bisa langsung dikonsultasikan ke dokter lewat telepon.

Mekanisme kekebalan
Suhu rata-rata tubuh normal dan sehat seseorang menurut beberapa peneliti barat seperti Becquerel dan Berscher (1835) dan Wunderlich (1868), adalah 37 derajat C.

Suhu tubuh normal seseorang sesungguhnya bervariasi tergantung pada waktu pengukuran (pagi, siang atau malam), tempat pengukuran (dalam rongga mulut, di ketiak, atau dalam dubur), faktor usia serta tingkat metabolisme (sebelum atau sesudah makan, sebelum atau setelah melakukan aktivitas fisik). Pengukuran suhu dengan termometer lewat rongga mulut atau dubur akan lebih tepat daripada lewat ketiak.

Suhu tubuh paling rendah pada pagi hari (pukul 5.00 - 6.00) dan paling tinggi senja hingga malam hari. Perbedaan antara suhu terendah dan tertinggi bervariasi, sekitar 0,3 C-1,5 C. Semula perbedaan itu diduga hanya karena perbedaan cuaca, suhu serta kelembapan saja, ternyata juga karena faktor irama diurnal (saat tidur dan melek) yang berkembang sejak usia 1 - 2 tahun dan berlangsung terus seumur hidup.

Suhu tubuh rata-rata orang dewasa di bawah 37 C. Seorang peneliti, Horvath SM dkk. pernah meneliti 54 orang dewasa muda (usia 23 tahun) selama beberapa bulan dengan kesimpulan, nilai rata-rata suhu rongga mulut pada pagi hari 36,5 C dan malam hari 36,8 C.

Peneliti lain, Dinarello dan Wolff dari Inggris melaporkan, hasil penelitian pada sembilan orang dewasa mudah (22 tahun), dalam seharinya rata-rata suhu badan mereka 36,6 C dengan nilai terendah 36,4 C dan tertinggi 36,8 C. Suhu rata-rata rongga mulut orang tua lebih rendah daripada orang muda, tetapi suhu duburnya sama.

Padahal suhu anus biasanya lebih tinggi daripada suhu rongga mulut. Perbedaan ini sangat bervariasi. Pada orang muda, suhu lubang keluaran itu rata-rata 0,56 C lebih tinggi daripada suhu rongga mulut.

Pada anak usia kurang dari 12 tahun, suhu tubuh waktu malam hari sering lebih tinggi, rata-rata 37,4 C. Sebagai pedoman kasar, suhu tubuh anak yang tidak melebihi 38 C (antara 36 C - 38 C) tidak perlu dirisaukan karena belum merupakan indikasi untuk diberi obat penurun panas. Karena sebenarnya suhu yang agak panas malah diperlukan untuk pertumbuhan dan sebagai salah satu mekanisme untuk mempertahankan tubuh dari serangan infeksi atau masuknya benda asing ke dalam tubuh.

Hal ini pernah dikemukakan oleh seorang ahli imunologi - infeksi dari Belanda, van den Meer. Kemudian, ia mengingatkan hendaknya pemakaian obat penurun panas terlalu dini berarti tidak memberikan kesempatan pada tubuh untuk melaksanakan fungsi mekanisme pertahanan tubuh (kekebalan). Kalau jamur yang sedang tumbuh (misalnya pada oncom dan tempe) menghasilkan panas dan membutuhkan kalori, demikian pula manusia. Tumbuh kembang anak lebih pesat daripada orang dewasa sehingga secara otomatis menghasilkan panas lebih banyak pula.

Menurunkan panas tanpa obat
Untuk mengatasi demam, lebih baik mengusahakan dulu dengan menyeka seluruh permukaan tubuh beberapa kali (terutama sewaktu suhu tubuh meningkat) dengan handuk kecil dibasahi air hangat.

Tindakan ini akan melancarkan sirkulasi darah dan membuka pori-pori kulit sehingga memberikan kesempatan panas keluar dari tubuh ke lingkungan sekitarnya. Ruang ventilasi yang baik di mana udara berlangsung secara teratur atau kamar ber- AC, sangat dianjurkan untuk merawat penderita demam.

Pakaian yang sudah basah karena keringat hendaknya segera diganti dengan yang kering. Sebaiknya dari katun yang lebih mengisap keringat, bukan yang sintetis. Bila usaha ini tidak berhasil dan suhu badan mencapai 38 C, barulah penderita diberi obat penurun panas (anti- piretika). Dosis obat penurun panas jenis asetaminofen, yang umum dijual di warung atau apotek seperti Tempra, Panadol, Parasetamol, dll adalah 10 mg/kg berat badan/hari dibagi 3 dosis (diminum 3 kali sehari).

Bila sudah diberi obat penurun panas dua kali tetapi suhu badan tetap belum turun juga, berkonsultasilah ke dokter. Mungkin demam yang diderita bisa karena infeksi bakteri yang agak berat yang tidak bisa mengandalkan mekanisme kekebalan tubuh atau obat penurun panas saja, tapi memerlukan obat antibiotika. Biarlah dokter yang menentukan pemilihan obatnya. (intisari)

Sumber: KOMPAS

Pasien DEMAM Jangan Diselimuti

Oleh: Prof.Dr. Iwan Darmansjah, Sp. Fk, Farmakolog

Apa yang harus dilakukan bila ada anggota keluarga terserang demam?

Pertama, ia harus istirahat. Menyelimutinya dengan selimut tebal -- ini yang kerap terjadi-- justru tidak dibenarkan. Udara tubuh yang panas malah tidak bisa menguap sehingga suhu akan tambah naik, dan pada anak-anak malah bisa kejang (stuip). Rasa dingin terjadi karena suhu tubuh sedang naik mendadak.

Tindakan yang paling baik adalah menyeka seluruh tubuh penderita dengan kain basah terus-menerus selama 5-7 menit. Dengan menguapnya air dan kulit, tubuh ikut didinginkan sehingga saat itu biasanya suhu tubuhnya mulai turun. Tidak baik memakai alkohol untuk tujuan itu karena alkohol akan diserap oleh kulit. Melakukan kompres hanya di kepala juga tidak efektif karena kontak permukaan terlalu kecil. Selain itu, penderita harus diberi minum banyak untuk ikut mendinginkan tubuhnya.

Demam atau panas memang gejala yang dapat berdiri sendiri atau bagian dari kumpulan gejala suatu penyakit. Demam merupakan suatu tanda penting untuk diperhatikan karena pada awalnya sering tidak atau belum dapat diketahui penyebab, dan berbahaya atau tidaknya.

Bila timbul demam, sebaiknya ukur suhu ketiak dengan termometer empat kali sehari tiap 4-5 jam. Suhu ini perlu dicatat untuk diperlihatkan pada dokter. Dokter yang nanti memeriksanya itu dapat memperoleh kesan jenis penyakitnya dari naik turunnya suhu badan. Misalnya suhu pada penyakit tifus, pada 3-4 hari pertama hanya naik malam hari sedangkan pagi panasnya hilang. Demam karena tifus, pada hari-hari awalnya hampir selalu dimulai dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Jadi, bila suhu badan hari pertama sudah sekitar 39-40 derajat C disertai menggigil, hampir dapat dipastikan ini bukan tifus. Tifus baru dicurigai bila demam sudah berjalan 4-5 hari atau lebih.

Demam yang pada hari pertama saja sudah mendadak tinggi, biasanya disebabkan oleh penyakit akibat virus, seperti influenza atau demam berdarah. Tentu ada banyak penyakit infeksi lain yang pola suhunya mirip tifus atau infeksi virus, namun di Indonesia dapat dikatakan 90% demam yang mendadak tinggi disebabkan oleh virus. Karena itu, demam yang sudah diderita lebih dari 2-3 hari perlu dikonsultasikan ke dokter karena perlu ditentukan penyebabnya. Di negara kita, salah satu penyebab yang sangat dikhawatirkan ialah demam berdarah yang banyak terjadi di akhir musim penghujan.

Bila pelbagai upaya awal untuk menurunkan demam tidak berhasil penderita dapat diberi obat penurun panas yang juga mempunyai sifat mengurangi rasa sakit, pegal, dan sakit kepala.

Obat pilihan pertama ialah parasetamol yang dijual dengan berbagai nama dagang. Menurut peraruran Depkes, semua obat yang dijual bebas harus menuliskan nama generik di bawah nama dagangnya yang dicantumkan di bawah "kandungan". Namun, patut diingat bila gejalanya hanya demam, tidak dibenarkan untuk menggunakan parasetamol yang dicampur dengan bahan aktif lain, misalnya untuk pilek, batuk, dan sebagainya. Tambahan bahan lain itu selain tidak ada gunanya, juga menjadikan obat lebih mahal. Belum lagi bila menimbulkan efek sampingan, akan menjadi mubazir.

Obat lain yang juga baik ialah ibuprofen karena efektif dan aman, namun mungkin belum begitu dikenal masyarakat. Asetosal (dikenal sebagai aspirin) tidak dianjurkan bila lambung pasien tidak tahan karena sifat asamnya. Asetosal dalam dosis 1 tablet dewasa menyebabkan darah menjadi encer sehingga perdarahan (seperti dalam haid atau terluka) akan sulit berhenti karena darah tidak dapat membeku. Asetosal juga tidak dianjurkan bila penyebab demam adalah virus (campak, cacar air, dan sebagainya), terutama pada anak karena asetosal dihubungkan dengan komplikasi fatal yang disebut Reye syndrome.

Pilihan lain yang tidak termasuk golongan obat bebas ialah asam mefenamat (kecuali yang 250 mg untuk orang dewasa) yang dikenal masyarakat sebagai Ponstan, dan dipiron (dikenal sebagai Antalgin atau Novalgin). Kedua obat mi tidak dibenarkan dibeli di toko obat atau apotek karena harus memakai resep. Seperti diketahui, kemasan obat bebas ditandai dengan lingkaran hijau atau biru, sedangkan obat resep lingkaran merah. (intisari)

sumber: KOMPAS

Jangan Panik, Demam Bukan Penyakit!

Oleh: dr. Purnamawati S.Pujiarto, Sp. AK, MMPed

Banyak orang tua panik alang-kepalang, ketika menyadari anaknya menderita demam. Mereka menganggap demam sebagai penyakit yang harus segera dibasmi. Padahal, demam hanyalah gejala, bukan penyakit.

Ketika anak mengalami peningkatan suhu tubuh, hal pertama yang harus dilakukan bukan mengkhawatirkan demamnya, melainkan mencari penyebabnya.

Secara garis besar, demam bisa diakibatkan oleh infeksi, bisa juga bukan infeksi. Pada bayi dan anak penyebab utama demam umumnya infeksi, terutama infeksi virus. Ketika terserang infeksi, tubuh berusaha membasmi infeksi itu dengan mengerahkan sistem imun.

Sel darah putih dan semua perangkatnya bekerja keras menghancurkan penyebab infeksi, membentuk antibodi untuk menetralkan musuh, serta membentuk demam. Kehadiran sang demam akan membantu membunuh virus, karena virus tidak tahan suhu tinggi. Sebaliknya, virus akan tumbuh subur di suhu rendah.

Dunia kedokteran membuktikan, pada umumnya demam bukan kondisi yang membahayakan serta mengancam keselamatan jiwa. Beberapa kepustakaan kedokteran menulis, demam merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk memerangi infeksi. Ia ibarat alarm yang memberitahukan bahwa sesuatu tengah terjadi di dalam tubuh.

Tubuh kita dilengkapi berbagai sistem pengaturan canggih, termasuk pengaturan suhu tubuh. Manusia memiliki pusat pengaturan suhu tubuh (termostat), terletak di bagian otak yang disebut dengan hipotalamus. Pusat pengaturan suhu tubuh itu mematok suhu badan kita di satu titik yang disebut set point.

Hipotalamus bertugas mempertahankan suhu tubuh agar senantiasa konstan, berkisar pada suhu 37°C. Itu sebabnya, di mana pun manusia berada, di kutub atau di padang pasir, suhu tubuh harus selalu diupayakan stabil, sehingga manusia disebut sebagai makhluk homotermal.

Termostat hipotalamus bekerja berdasarkan asupan dari ujung saraf dan suhu darah yang beredar di tubuh. Di udara dingin hipotalamus akan membuat program agar tubuh tidak kedinginan, dengan menaikkan set point alias menaikkan suhu tubuh. Caranya dengan mengerutkan pembuluh darah, sehingga badan menggigil dan tampak pucat.

Sedangkan di udara panas, hipotalamus tentu saja harus menurunkan suhu tubuh untuk mencegah heatstroke. Caranya dengan mengeluarkan panas melalui penguapan. Pembuluh darah melebar, pernapasan pun menjadi lebih cepat. Makanya, pada saat kepanasan, selain berkeringat, kulit kita juga tampak kemerahan (flushing).

Salah kaprah lainnya, banyak orangtua yang menentukan anaknya demam atau tidak hanya berdasarkan perabaan tangan. Padahal, anak bisa saja teraba hangat kalau ia habis bermain di tempat panas; di lain pihak, anak teraba dingin (seperti tidak demam) ketika dia mengalami renjatan atau shock, semisal dengue shock syndrome.

Ketika demam, otak mematok suhu di atas set point normal, yaitu di atas 38°C. Dengan menggunakan termometer, anak dinyatakan demam jika suhu tubuhnya 38°C (diukur di rektum atau ujung usus besar, termometer dimasukkan melalui anus), 37,5°C apabila diukur di mulut, serta 37,2°C jika diukur di ketiak.

Akibat tuntutan peningkatan set point, tubuh akan memproduksi panas. Proses pembentukan panas itu terdiri dari tiga fase. Pertama, menggigil (berlangsung sampai suhu tubuh mencapai puncaknya), lalu suhu tubuh tetap tinggi untuk beberapa jam (fase kedua), dan suhu tubuh turun jadi normal atau mendekati normal (fase ketiga).

Satu lagi, makin tingginya suhu saat demam tidak menandakan penyakit yang lebih parah. Infeksi virus ringan, seperti selesma misalnya, bisa menyebabkan demam yang cukup tinggi. Di lain pihak, bayi baru lahir dengan infeksi berat sekali pun bisa saja suhu tubuhnya tidak meningkat atau hanya sedikit peningkatannya.

Jadi, jangan gampang dibuat panik oleh demam.

sumber: KOMPAS

Awas, Salah Pasang Termometer!

Oleh: dr. Purnamawati S. Pujianto, Sp. AK, MMPed

Sudah bukan rahasia lagi, anak-anak gampang demam. Maklum, mereka memang sangat terhadap infeksi virus, seperti pilek, flu, dan selesma. Buntutnya, ibu-ibu mereka jadi makin akrab dengan alat pengukur suhu tubuh atau termometer.

Namun, apakah para ibu sudah paham betul cara memaksimalkan termometer?

Pasalnya, banyak banget termometer dijual orang. Selain yang berisi merkuri, ada juga pengukur termometer liang telinga, dan termometer fleksibel yang ditempelkan di dahi.

Termometer digital sangat praktis, karena bisa membaca suhu tubuh dengan cepat dan akurat. Termometer jenis ini dapat dipakai untuk mengukur suhu tubuh secara oral (di rongga mulut), rektal (melalui anus), atau ketiak (dikepit di bawah lengan atas). Biasanya bergagang plastik dengan sensor dan layar hasil pengkuran di kedua sisinya.

Sedangkan termometer telinga dipakai untuk mengukur suhu gendang telinga atau suhu di dalam liang telinga. Pada anak yang agak besar, pengukuran dapat berlangsung cepat, akurat, dan mudah. Namun, pada bayi tidak begitu akurat, karena liang telinga masih kecil. Harganya pun lebih mahal. The American Academy of Pediatrics (AAP) tidak menganjurkan penggunaan alat ini pada bayi berusia kurang dari tiga bulan.

Berikutnya, termometer strip plastik, merupakan lempengan tipis plastik yang ditempelkan di kening anak. Alat ini dapat dipakai untuk mengukur suhu tubuh, tapi akurasinya rendah, khususnya pada bayi dan anak kecil. Sedangkan termometer kaca merkuri yang pernah menjadi termometer paling banyak digunakan para ibu, kini tak dianjurkan, karena bahaya pencemaran merkuri (jika termometer pecah, misalnya).

Ada pula pacifier thermometers (termometer empeng). Meski mudah digunakan, pengukur suhu satu ini sering tidak akurat, sehingga tak dianjurkan dipergunakan pada bayi berusia kurang dari tiga bulan.

Para ibu harus memaksimalkan fungsi termometer, karena data suhu tubuh sangat dibutuhkan oleh tenaga medis. Metode yang dipilih dalam mengukur suhu tubuh anak sangat ditentukan oleh usia dan seberapa kooperatif anak. Apabila berumur kurang dari tiga bulan, misalnya, lebih akurat diukur menggunakan termometer digital.

Ketika berusia tiga bulan sampai dengan empat tahun, dapat dipilih termometer digital atau telinga. Termometer digital juga dapat dipakai untuk mengukur suhu di ketiak, meski hasilnya kurang akurat. Setelah anak berusia lebih dari empat tahun, termometer digital menjadi pilihan untuk mengukur suhu di dalam rongga mulut.

Namun, jika anak batuk berulang atau bernapas melalui mulut (akibat selesma yang menyumbat pengukuran suhu rongga mulut tidak lagi efektif. Gantinya, pakai termometer telinga, atau ukur suhu ketiak atau rektum dengan termometer digital.

Sebelum mengukur temperatur rektal, lumasi ujung termometer dengan jelly yang larut air (bukan petroleum jelly seperti vaselin). Baringkan anak di pangkuan, atau di atas tempat yang rata dan agak keras. Satu tangan memegang bagian bawah pantat, anak agar tidak bergerak-gerak. Sementara tangan lain memasukkan termometer melalui anus sejauh 1 - 2 cm. Bila ada tahanan, jangan masukkan lebih dari 1 cm. Tenangkan anak, lalu tunggu sampai terdengar nada -beep" (pada termometer digital).

Untuk mengukur temperatur di dalam rongga mulut (oral), bila anak baru saja minum atau makan, tunggu 20 - 30 menit. Pastikan tidak ada makanan, permen, di dalam mulutnya. Letakkan ujung termometer di bawah lidah, minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer. Ingatkan dia untuk tidak atau berbicara saat ada termometer di dalam mulut.

Terakhir, saat mengukur temperatur di ketiak, termometer harus menyentuh kulit, bukannya baju. Yang harus diingat, apa pun metodenya, ingat pantangannya: jangan mengukur suhu tubuh segera anak mandi, atau ketika ia tengah dibedong, karena akan mempengaruhi hasil pengukuran.*

sumber: Kompas