Sponsored

Showing posts with label jaundice. Show all posts
Showing posts with label jaundice. Show all posts

Pentingnya Matahari Bagi Bayi

Bayi kuning yang dalam bahasa kedokteran disebut sebagai Ikterus Neonatarum adalah kondisi yang terjadi ketika produksi bilirubin di tubuh bayi berlebihan dan si bayi tak mampu mengeluarkannya lewat berkemih dan buang air besar.


Pasangan Anton-Dewi sedang berbahagia. Putra pertama mereka lahir dengan selamat. Berat dan tinggi badannya normal dengan kulit yang kekuningan. "Wah, cantiknya kulitnya kuning langsat seperti mamanya. Anteng lagi, tidur terus," kata salah seorang teman mereka yang membesuk ke rumahnya.

Tapi saat periksa, sekitar empat hari sejak melahirkan, dokter memutuskan untuk merawat inap putra Anton-Dewi. "Kenapa harus dirawat? Anak saya sehat kok. Cuma agak rewel saja kalau disusui. Wajar kan, mungkin dia belum terbiasa," kata Dewi.

Dokter mengatakan bahwa anak Dewi mengalami gejala bayi kuning atau dalam bahasa kedokteran disebut sebagai Ikterus Neonatarum (IK). Ini adalah kondisi yang terjadi ketika produksi bilirubin di tubuh bayi berlebihan dan si bayi tak mampu mengeluarkannya lewat berkemih dan buang air besar.

Gejala ini sangat umum terjadi pada bayi yang baru lahir antara usia satu sampai tujuh hari. Bahkan menurut Dr. Sumarwoto, SpA angka kasusnya cukup tinggi. Yaitu sekitar 60 persen pada bayi yang lahir cukup bulan, dan 80 persen pada bayi yang lahir kurang bulan.

Meski cukup umum terjadi, bukan berarti masalah ini boleh diremehkan. "Kadar bilirubin yang terus meningkat tanpa dikendalikan bisa menempel di otak bayi, sehingga menyebabkan bayi menderita penyakit yang sering disebut otak kuning," kata dr. Sutikno. Penyakit otak kuning ini bisa menghalangi perkembangan motorik dan sensorik anak beberapa tahun kemudian.

Ada kasus ketika seorang anak hingga usia dua tahun tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, berbicara atau melakukan kegiatan anak normal seusianya. Setelah diperiksa ternyata si anak, ketika bayi pernah mengalami kasus bayi kuning ini hingga bilirubinnya mencapai angka 42 mg/dl!

Sebagai catatan kadar bilirubin yang normal pada bayi yang baru lahir hanya sekitar 12 mg/dl saja. "Maka sebaiknya orang tua waspada pada masalah ini. Kenali gejala-gejala bayi yang kuning sedini mungkin," kata Dr. Sumarwoto, SpA.

Yang mesti dipahami orang tua, gejala bayi kuning sangat berbeda dengan penyakit kuning pada orang dewasa yang disebabkan karena infeksi virus Hepatitis. Gejala bayi kuning disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin, zat berwarna kuning, dalam darah.

Bilirubin terjadi dari pemecahan hemoglobin pada bagian sel darah merah yang disebut sebagai eritrosit. Pada bayi yang terlahir dengan gejala bayi kuning, proses pemecahan hemoglobin ini terjadi saat bayi masih berupa janin. Karena suatu sebab bilirubin dalam tubuh bayi yang baru lahir ini tak bisa terbuang secara alami lewat berkemih dan buang air besar, sehingga mengendap di bawah jaringan kulit. Diduga tidak lancarnya pembuangan bilirubin ini akibat belum berkembangnya fungsi jantung pada anak.

Penyembuhan kasus bilirubin ini sebenarnya cukup sederhana jika gejalanya bisa dikenali sedini mungkin. Pertama biasanya pihak medis akan menganjurkan ibu si bayi untuk sesering mungkin memberikan ASI pada bayi. "Pada beberapa kasus, saat ASI ibu tidak keluar dengan sempurna, kami akan memberikan susu formula. Tapi dibanding susu formula, ASI tetap lebih baik karena mengandung kolostrum atau antibodi yang sangat tinggi," kata Dr. Sutikno.

Selain memberikan ASI, dianjurkan juga untuk menjemur bayi di panas matahari pagi sekitar pukul 07.00-08.00. Sinar matahari sangat baik untuk memecah bilirubin tak larut dalam air dan mengendap di bawah kulit. Endapan tersebut nantinya akan terbuang melalui kemih dan buang air besar bayi. Dalam masa pengobatan biasanya bayi akan mengalami diare. "Tapi ini tak mengkhawatirkan, justru membuktikan bilirubin terbuang dengan baik," kata Dr. Sutikno.

Namun jika mengalami kadar bilirubin mencapai 12 mg/dl atau lebih biasanya akan dilakukan adalah memberi sinar lampu dalam inkubator selama 2-3 hari berturut-turut. Pada kasus tertentu, saat bilirubin meningkat hingga melampaui batas yang bisa ditolerir maka dokter biasanya akan menganjurkan untuk melakukan transfusi tukar. Yaitu menukar darah bayi dengan jenis darah yang sesuai dengan kondisi tubuhnya.

Pencegahan kasus bilirubin ini bisa dilakukan dengan melakukan pemeriksaan medis pra pernikahan. Ini penting untuk menghindari ketidakcocokan darah pada anak-anak yang terlahir kemudian. Juga untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang bisa diturunkan pada keturunan mereka kelak. Selanjutnya kasus bayi kuning ini bisa dihindari dengan pemeriksaan rutin saat kehamilan, persalinan hingga observasi medis selama masa nifas. (utami)

sumber: KlinikNet

BAYI KUNING? HATI-HATI !

Memang, jika cepat tertangani, kuning pada bayi tak perlu dicemaskan. Apa saja yang harus kita waspadai?

"Bayinya belum bisa pulang karena kuning." Begitu, kan, yang sering kita dengar tentang bayi yang baru lahir.

Bayi kuning, ada dua macam. Yaitu yang faali (fisiologis) dan patologis. Yang patologis adalah yang dapat menganggu tumbuh kembang bayi di kemudian hari. "Yang faali disebut juga kuning yang normal. Umumnya terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14 hari. Walaupun secara faali, tetapi perlu diwaspadai. Karena kuning yang faali mungkin mempunyai latar belakang patologis," ungkap Prof. Dr. dr. Nartono Kadri, Sp.A(K), dari Bag. Perinatologi, Ilmu Kesehatan Anak Fak. Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Selain itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama dan kedua, yang berangsur-angsur akan hilang sendiri. "Ini gejala biasa. Di dalam ASI ada komponen yang mempengaruhi timbulnya kuning pada bayi. Tidak berbahaya, kok," jelas Nartono. Kendati demikian, lanjutnya, orangtua harus tetap waspada. Terutama kalau si bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan acidosis (penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah). Misalnya, sesak napas atau mencret berat. "Sebab, kadar bilirubin bebas bisa meningkat."

Nah, berikut ini sejumlah hal mencurigakan yang harus diwaspadai.

* Bila kuningnya muncul cepat sekali. Misalnya, pagi lahir, sorenya sudah kuning.
* Peningkatan kadar kuning cepat sekali.
* Lamanya kuning berlangsung. Bila kuningnya hilang sangat lambat, misalnya sesudah 2 minggu masih kuning terus, waspadalah.

Lalu apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi? "Segera bawa ke dokter!" pesan Nartono.

PENYEBAB

Cara termudah untuk mendeteksi bayi menderita kuning atau tidak, sebetulnya tak terlampau sulit. "Lihat di bagian putih mata bayi saat ia menyusu. Kalau kuning, akan terlihat jelas di matanya!"

Kuning pada bayi timbul karena adanya timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit. Sebab itulah kulit si bayi terlihat kuning.

Pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah yang sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Nah, sel darah merahlah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke bayi melalui plasenta. "Sesudah ia lahir, parunya sudah berfungsi, sehingga sel darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan. Salah satu hasil pemecahan itu adalah bilirubin."

Bilirubin alias pecahan hemoglobin ini pun bermacam-macam: indirect, direct, dan bebas. Yang indirect atau yang belum diolah, yaitu bilirubin yang terikat albumin sebagai zat pengangkut, akan dibawa ke hati untuk diproses menjadi bilirubin direct. Bilirubin direct ini akhirnya disimpan di kantong empedu.

Kadang tidak semua hasil pemecahan hemoglobin ini bisa diikat oleh albumin dan dibawa ke hati. Sebagian tidak terangkut dan disebut bilirubin bebas. Justru bilirubin inilah yang berbahaya. "Karena ia bisa gentayangan ke mana-mana. Terutama kalau ia masuk ke otak, tak bisa dilepas lagi." Jika sampai masuk ke otak, "Akan menimbulkan penyakit yang disebut kern ikterus atau timbunan bilirubin di dasar otak," jelas Nartono.

Namun oleh suatu keadaan tertentu, bilirubin indirect pun bisa pecah lagi menjadi bilirubin bebas. Yaitu jika si anak dalam keadaan sakit atau mencret, yang menyebabkan ia kehilangan banyak cairan. Kekurangan cairan (juga oksigen) akan mengakibatkan lepasnya albumin sehingga ia menjadi bilirubin bebas yang membahayakan.

Lantas di mana terjadinya pemecahan sel darah merah? Ia bisa terjadi karena adanya tabrakan-tabrakan di saluran pembuluh darah, di sel-sel hati, atau di sel limfa. Kadang pemecahan sel darah merah terjadi sangat berlebihan sehingga meningkatkan kadar bilirubin. Ini biasanya disebabkan beberapa hal:

1. Karena hemolisis (hancurnya sel darah merah). Ini terjadi bila:
* Adanya ketidakcocokan darah ibu dan bayi (A,B,O atau rhesus)
* Kekurangan enzym, yang sering dikenal dengan G-6-PD
* Adanya kelainan sel darah merahnya sendiri

Pada ketidakcocokan golongan darah, misalnya bila si ibu berdarah O, sedangkan si bayi berdarah A atau B. "Pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Kalau darah si janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka si ibu akan membentuk zat antibodinya (zat penangkis). Zat ini sedikit banyak akan mengalir lagi ke tubuh si janin melalui plasenta. Akibatnya, zat antibodi ini akan menghancurkan sel darah merah si bayi, sehingga meningkatkan kadar bilirubinnya."

Sedangkan untuk ketidakcocokan golongan darah akibat rhesus, biasanya terjadi bila ibu golongan darah rhesus negatip dan janin rhesus positip.

2. Karena obat-obatan

Ada beberapa macam obat, misalnya yang mengandung sulfa, bisa menghancurkan sel darah merah. Karena itu, berhati-hatilah memberi obat pada bayi. Konsultasikan pada dokter sebelumnya.

3. Karena infeksi

Bisa infeksi saat bayi dalam kandungan atau infeksi saat di jalan lahir. Misalnya jalan lahir ibunya kotor. Atau infeksi sesudah lahir, semisal karena alat-alat bayi tidak steril sehingga racunnya menghancurkan sel darah merah.

Selain karena pemecahan sel darah merah yang berlebihan, peningkatan kadar bilirubin bisa juga berasal dari penyumbatan. Yaitu bila saluran empedunya tersumbat, sehingga bilirubinnya tidak bisa dikeluarkan. Atau juga bila hatinya membengkak (hepatitis), sehingga pipa-pipanya tersumbat. Umumnya kuning yang disebabkan oleh penyumbatan terlihat sesudah minggu kedua atau lebih.

Bagaimana membedakan kuning pada bayi karena bilirubin yang indirect (pemecahan yang belebihan) atau direct (penyumbatan)? "Lihat dari kotorannya. Bila kotorannya kuning, biasanya karena pemecahan. Tapi yang disebabkan penyumbatan, kotorannya akan terlihat putih seperti dempul. Hal ini karena empedunya tidak bisa masuk usus, sehingga kotoran tidak bisa diolah dan menyebabkan berwarna putih."

AKIBAT DAN TERAPI

Untuk bilirubin yang berasal dari pemecahan yang berlebihan, asalkan cepat ditangani biasanya dapat cepat sembuh. "Jika terlambat ditangani, bisa menjadi kern ikterus atau meninggal." Bayi pengidap kern ikterus, lanjut Nartono, akan mengalami kelainan perkembangan. Yakni berupa gangguan susunan saraf pusat atau panca indra. Entah itu berupa kelainan motorik, gangguan perkembangan mental, tuli, lambat bicara, ataupun susah belajar. "Tergantung berapa luas dan berapa banyak timbunannya. Serta di bagian otak sebelah mana ia tertimbun."

Pada bayi dengan kasus seperti ini, salah satu tindakan yang dilakukan adalah memberinya cukup cairan. "Bila kadar bilirubinnya masih ringan, cukup dijaga agar cairan tubuh tidak berkurang. Tiga atau empat jam sekali, bayi harus diberi susu."

Terapi lain adalah yang disebut sinar biru (blue light therapy). "Bisa juga dengan bantuan sinar matahari. Tapi jangan dijemur secara langsung di bawah matahari. Cukup asal terkena sinarnya saja."

Namun jika kadar kuning tinggi sekali dan amat cepat kenaikannya, dokter akan melakukan transfusi tukar. Darah bayi yang sudah mengandung bilirubin dikeluarkan, diganti dengan darah baru.

Sedangkan untuk bilirubin yang berasal dari penyumbatan, bila tidak segera ditangani akan menyebabkan kerusakan hati. "Hatinya bisa mengecil (sirosis) dan mengeras. Untuk ini, dokter akan membedah tempat yang tersumbat tadi," jelas Nartono.

Ia juga mengingatkan, untuk bayi kuning yang disebabkan kekurangan enzym yang disebut G-6-PD, sebaiknya tidak menggunakan kapur barus untuk baju-baju bayi. "Memang tidak semua bayi akan menjadi kuning bila pakaiannya terkena kapur barus. Tapi dalam kasus bayi yang G-6-PD ini, enzym di dalam darah merah si bayi kurang, sehingga sel darah merah mudah pecah dan menjadi bilirubin karena dampak kapur barus."

sumber: Nakita VIII no.388

Bayiku Kuning! Apa yang harus dilakukan???

Ketika bayi baru pulang dari rumah sakit, seringkali dokter/perawat berpesan, Jangan lupa bayi-nya sering-sering dijemur ya, Bu... Biar gak kuning.

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan bayi kuning?
Kulit bayi menjadi kekuningan karena kelebihan jumlah bilirubin. Bilirubin ini adalah pigment merah-kekuningan yang ada dalam tubuh kita. Dalam jumlah kecil bilirubin memang terdapat dalam darah kita.

Bilirubin dihasilkan dan dikeluarkan melalui peredaran darah, ketika sel darah merah pecah. Bilirubin kemudian dibawa ke hati untuk diproses dan kemudian dibuang.

Kenapa bayi menjadi kuning?
Bayi baru lahir memiliki banyak sekali sel darah merah. Dan pemecahan sel darah merah adalah proses alami untuk membuang kelebihan sel darah merah ini. Proses ini menghasilkan bilirubin dalam jumlah yang cukup besar.

Sebab lain, hati bayi yang baru lahir belum dewasa (immature), sehingga tidak dapat mengolah bilirubin dengan cepat. Lambatnya proses ini tidak ada hubungannya dengan penyakit pada hati. Ini lebih karena hati bayi belum berkembang sempurna, sehingga proses pembuangan bilirubin berjalan lebih lambat dari seharusnya.

Faktor lain yang dapat menyebabkan kuning pada bayi adalah kondisi yang dikenal sebagai ABO incompatibility dan Rh incompatibility. Kedua kondisi ini menyebabkan pemecahan sel darah merah yang sangat cepat.Beberapa faktor lain yang juga dapat menyebabkan bayi kuning adalah diabetes selama kehamilan, penggunaan oksitoksin pada saat proses kelahiran, bayi laki-laki dari ras Asia, riwayat neonatal jaundice dalam keluarga, dan bayi lahir kurang bulan (kurang dari 38minggu).

Walaupun ada hubungan antara menyusui dengan naiknya resiko neonatal jaundice(kuning pada bayi baru lahir) selama minggu pertama, fakta ini tidak boleh mencegah ibu untuk menyusui anaknya.Hal ini kemungkinan disebabkan karena posisi menyusui yang kurang tepat, sehingga bayi tidak mendapatkan jumlah ASI yang dibutuhkan. Atau karena bayi lebih banyak tidur. Bayi-bayi yang kurang minum (dehidrasi) dan kurang buang besar, memiliki kemungkinan terkena jaundice lebih tinggi.

Apa tanda-tanda bayi sehat dan tidak mengalami dehidrasi?
Untuk mengamati bayi kuning atau tidak biasanya 2 atau 3 hari setelah pulang dari rumah sakit, bayi dirujuk untuk kontrol.
Pada hari ketiga setelah lahir, berat bayi sudah tidak turun lagi dan penurunan beratnya tidak lebih dari 10% berat lahir. Pada hari ini juga, bayi sudah mengeluarkan kotoran (bukan mekonium) setidaknya 2 atau 3 kali dalam satu hari, 6 hingga 8 popok basah per hari dan dapat menyusu setidaknya 6 hingga 8 kali.

Pada beberapa bayi, ada yang disebut kuning akibat ASI. Biasanya mulai terlihat antara hari ke 7 hingga ke 11 setelah kelahiran. Walaupun bayi dapat menyusu dengan baik dan pertambahan berat badannyapun normal, sesuatu di dalam ASI menghambat kemampuan hati untuk memproses bilirubin. Kondisi ini seringkali datang bersamaan dengan kuning fisiologis dan akan hilang dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan. Hal ini umum trejadi pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan tidak berbahaya.Jika level billirubin bayi terlalu tinggi, ada kemungkinan dokter akan menyarankan untuk menghentikan pemberian ASI selama 1 atau 2 hari. (Jangan lupa untuk mempertahankan suplai, ASI harus tetap dipompa!)

Apa yang terjadi jika bayi baru lahir kuning?
Kuning fisiologis (physiologic jaundice) biasanya mulai terlihat pada hari kedua atau ketiga setelah lahir. Biasa dokter akan menyarankan untuk melakukan tes darah. Dari hasil tes darah dan kondisi umum bayi, dokter akan mengambil keputusan perawatan apa yang akan dilakukan. Jika perawatan dirasa tidak diperlukan, kuning pada bayi akan berkurang setelah satu minggu dan hilang dalam dua minggu. Jika dibutuhkan, bayi akan menjalani fototerapi menggunakan Bililight.

Bililight terdiri dari beberapa buah lampu fluorescent yang diletakkan di atas tempat tidur bayi. Sinar dari lampu ini akan membantu bayi untuk menghilangkan bilirubin di permukaan kulit dengan mengubah struktur bilirubin sehingga lebih mudah diproses oleh hati.

Untuk mendapatkan manfaat maksimal, selama dilakukan fototerapi, baju bayi dilepas. Mata bayi ditutup untuk menghindari paparan sinar yang terlalu terang. Posisi tidur bayi diubah beberapa kali untuk memastikan seluruh tubuh bayi terpapar sinar.

Penanganan hiperbelirubinemia (jaundice) pada bayi sehat
Usia, JamTSB Levelunit:mg/dL(pmol/L)
Consider PhototherapyPhototherapyExchange Transfusion if Intensive Photo therapy FailsExchange Transfusion and Intensive Phototherapy
<=24**. . .. . .. . .. . .
25-48>12 (210)>15 (260)>20 (340)>25 (430)
49-72>15 (260)>18 (310)>25 (430)>30 (510)
>72>17 (290)>20 (340)>25 (430)>30 (510)

Keterangan
* TSB = total serum bilirubin.
§ Bayi baru lahir yang kuning sebelum 24 jam setelah kelahirannya, tidak dinyatakan sebagai bayi sehat dan dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk mencegah bayi menjadi kuning, dianjurkan untuk menjemur bayi pada pagi atau sore hari, ketika panas matahari tidak terlalu terik. Menjemur di sini, bisa diartikan sebagai jalan-jalan pagi/sore, asalkan tubuh bay terpapar sinar matahari. Baju bayipun tidak perlu dibuka. Bahkan, jika sinar matahari masuk ke dalam kamar, bayi tetap bisa berada di dalam ruangan.(dhe)

Dirangkum dan diterjemahkan bebas oleh DeA Haryono
Sumber:
Facts About Jaundice
What happens when a newborn baby has jaundice?
Jaundice and Dehydration in The Early Discharged Healthy Term Newborn
Management of hyperbilirubinemia in the healthy term newborn.
Jaundice
What is newborn jaundice?

Artikel asli dalam bahasa inggris dapat dilihat di sini!