Sponsored

Showing posts with label Susu. Show all posts
Showing posts with label Susu. Show all posts

Kebutuhan Kalsium Harian

Kalsium adalah mineral utama yang menyusun tulang. Mengkonsumsi makan dengan kandungan kalsium yang tinggi dalam menu harian diperlukan untuk pertumbuhan tulang anak. Hal ini juga diperlukan untuk mencegah osteoporosis di kemudian hari.

Anak usia 1-3 tahun membutuhan 500mg kalsium setiap harinya, atau setara dengan 2 gelas susu.

Anak usia sekolah 4-8 tahun membutuhkan 800mg kalsium per hari. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi 3 gelas susu setiap harinya.

Anak berusia 9-18 tahun membutuhkan sekitar 1300mg kalsium setiap harinya. Kebutuhan kalsium yang tinggi ini dibutuhkan ketika mereka mulai memasuki masa pubertas. Kebutuhan kalsium ini setara dengan 4 gelas susu.(dhe)

Diterjemahkan bebas oleh Dea Haryono.
sumber: Calsium Requirement

Susu Formula atau Susu Segar?

Susu pasteurisasi
Merupakan susu segar yang diberi perlakuan panas (63-72 oC) selama 15 detik dengan tujuan untuk membunuh bakteri patogen (penyebab penyakit).

Susu UHT (Ultra High Temperature)
Susu segar yang diolah menggunakan pemanasan tinggi (135-145 oC) dan dalam waktu singkat (2-5 detik). Selain membunuh seluruh mikroorganisme, proses UHT juga untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu, serta mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segarnya.

Susu bubuk/formula
Berasal dari susu segar, baik dengan atau tanpa rekombinasi zat lain (seperti lemak dan protein), yang dikeringkan dengan cara spray drying.

Jenis susu apa pun yang Anda pilih, perhatikan hal-hal berikut.
Komposisi susu
Susu yang diberikan harus mengandung zat-zat gizi penting, seperti energi, protein, dan lemak, dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Penampilan fisik
kemasan (kaleng, kadus atau karton) tidak penyok, berkarat, robek, kembung atau bocor
untuk susu cair, jangan konsumsi bila tercium bau asam dan teksturnya rusak (tampak 'pecah' dan agak kental)
untuk susu bubuk, jangan dikonsumsi bila ada gumpalan, warna berubah (misalnya, dari putih jadi coklat atau kelabu), dan berbau tengik.

Pilih yang tanggal kadaluwarsanya masih jauh

Patuhi cara penyajian (sesuai usia anak)
Takaran penyajian yang tidak tepat, misalnya saat melarutkan susu bubuk, dapat mengarah ke timbulnya resiko kurang gizi atau kerusakan ginal.

sumber. ayahbunda

Pengalaman pribadi
Sejak usia 7bulan, aKia sudah mulai dikenalkan susu bubuk, yang dipakai hanya untuk melarutkan bubur susu-nya. Setelah usia setahun, mulai kami memperkenalkan susu cair. Alasannya, toh... kandungan gizinya kurang lebih sama.
Awalnya, saya sempat mencoba memberikan susu bubuk merk tertentu, tapi dengan adanya tambahan susu bubuk di daftar belanja... Bisa dibayangkan, biaya bulanan meningkat hingga separuhnya. Hihihi... soalnya pas ASI hemaaat banget.
Akhirnya berbekal hunting kanan-kiri, kami ambil keputusan Kia dikasih susu UHT.

Susu Sapi atau Susu Kedelai?

Susu sapi


Paling banyak direkomendasikan. Alasannya, komposisi gizi susu sapi paling mendekati ASI. TAPI... Jangan pilih susu sapi, jika ada riwayat alergi susu sapi dalam keluarga.
Namun, ada kok susu sapi yang protein susunya sudah 'dipecah' sehingga lebih mudah dikonsumsi. Biasanya susu model ini diberi kode HA (hypoallergenic).

Tanda-tanda alergi
Diare dengan pendarahan atau lendir, kesakitan saat buang air besar, muntah, timbul ruam, bernapas seperti orang bersiul, sesak napas



Susu kedelai


Komposisi gizinya hampir sama dengan susu sapi. TAPI... sebagian orang yang alergi terhadap protein susu sapi juga alergi terhadap protein kedelai.
Kecuali, bila masalahnya adalah intoleransi terhadap laktosa (ketidakmampuan mencerna laktosa atau gula susu), maka susu kedelai bisa jadi pilihan utama.

berbagai sumber

DHA SULIT DISERAP BAYI, JANGAN TERPENGARUH IKLAN SUSU

JAKARTA, JUM'AT 22 SEPTEMBER 2000, HARIAN MEDIA INDONESIA - HAL 9

JAKARTA (MEDIA) : Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial tersebut.

Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun makanan bayi dan anak-anak termasuk untuk ibu hamil. "Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan asam linolenat itu ke dalam susu", ujarnya kepada Media, kemarin di Jakarta. Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tsb. tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi pembentukan DHA dalam tubuh secara otomatis hancur.

Karena itu, Utami, sebagai pakar air susu ibu (ASI) mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, supaya jangan terpengaruh terhadap iklan susu dan makanan pendamping ASI yang mengandung DHA dengan iming- iming mampu meningkatkan kecerdasan bayi. "Asam lemak esensial tersebut justru cukup terkandung dalam ASI, bahkan unsur DHA-nya tergolong ikatan rantai panjang yang sangat mudah diserap pencernaan bayi", ujarnya. Karena itu dia menganjurkan agar bayi diberikan ASI sejak lahir sampai umur 4 bulan, karena asam lemak ASI juga terdiri dari asam arakidonat. "Berarti, kandungannya melebihi unsur asam linoleat dan asam linolenat".

Setelah empat bulan, katanya, bayi dapat diberikan tempe yang mengandung pula asam linoleat maupun asam linolenat karena lemaknya termasuk ikatan rantai panjang. Utami menjelaskan, setelah mencapai umur enam bulan,bayi juga dapat diberikan ikan laut, yang secara alami mengandung pula kedua asam lemak itu tanpa harus mengonsumsi susu formula.

Menyesatkan Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit Saint Carolus ini mengakui, semboyan "Empat Sehat Lima Sempurna" yang berlaku sejak dulu dinilai telah menyesatkan masyarakat. "Orang beranggapan konsumsi makanan sehari-hari belum sempurna jika tidak minum susu. Susu bukan berarti tidak penting, namun bukan segala-galanya", tegasnya lagi. Dia bahkan melihat iklan susu maupun makanan bayi dan anak-anak yang diimplementasi dengan DHAcenderung menyesatkan masayarakat, karena produsen memanfaatkan kebodohan konsumen yang tak memahami manfaat sesungguhnya dari unsur tambahan tersebut.

Sementara, kalangan spesialis gizi di Indonesia umumnya menyatakan masih awam terhadap kandungan DHA dalam susu. Karena sampai sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaatnya. Dokter Soebagyo Sumodihardjo MSc, pakar gizi dari bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengungkapkan pihaknya baru mengetahui hal itu dari media massa . Ketika ditemui Media usai pembukaan lokakarya "Pemerataan serta Peningkatan Pemanfaatan Lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di Sektor Non-Departemen Kesehatan dan Kesejahteraaan Sosial" kemarin di Jakarta, dia belum bersedia dimintai komentarnya. "Saya baru mengkliping dan belum membaca literatur", ujarnya. Dia berjanji memberitahukan hal tersebut seminggu kemudian setelah segala informasi dikumpulkan dari berbagai sumber.

Spesialis Anak Dr. Sri S. Nasar sebelumnya menginformasikan bahwa overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Dikatakan bahwa gejalanya berupa perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit. "Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda".
(Rse/V-1)