Sponsored

Pentingnya Sikat Gigi Malam Hari

oleh : Dokter Handrawan Nadesul
Kualitas gigi seseorang ditentukan benih gigi dan bagaimana gigi-geligi dirawat sejak awal kali tumbuh. Benih gigi dipengaruhi oleh nutrisi ibu selama anak dalam kandungan. Perawatan gigi anak juga tergantung bagaimana ibu membantu merawatnya. Bagaimana perawatan gigi balita perlu dilakukan?

GIGI anak berjumlah duapuluh. Gigi dewasa tigapuluhdua. Saat lahir, dalam rahang bayi terdapat 44 buah gigi yang tengah dibentuk. Duapuluh gigi susu, duapuluh gigi dewasa, dan empat kantung gigi geraham dewasa. Duapuluh akan keluar sebagai gigi susu (primary dentition). Rata-rata gigi pertama akan keluar (erupsi) pada umur 7 bulan yang muncul sebagai gigi seri bawah.

Anak perempuan dan bayi yang diberi ASI lebih cepat erupsi dibanding anak laki-laki, atau yang bukan diberi ASI. Erupsi gigi juga tergantung etnis, dan bersifat individual pula. Misal, anak yang mengalami gangguan tulang, atau anak dengan keterbelakang mental, erupsi gigi susunya umumnya terlambat.

Selang beberapa bulan setelah gigi susu pertama disusul gigi seri atas, gigi seri bawah pada umur setahun, gigi geraham pertama pada umur 14 bulan, selanjutnya gigi geraham kedua setelah berumur 2 tahun. Gigi susu sudah lengkap keluar setelah anak berumur 2 tahun.

Gigi susu perlu dipertahankan sampai gigi tetap keluar

Umur gigi susu sekitar 6-10 tahun saja. Pada saat anak berumur 6 tahun, gigi susu pertama sudah tanggal dan digantikan oleh gigi tetap (permanent dentition). Gigi tetap pertama, yakni prageraham pertama. Menyusul gigi seri, prageraham kedua, taring, dan geraham kedua pada umur 12 tahun. Terakhir geraham bungsu baru erupsi antara umur 18-25 tahun.

Masing-masing gigi susu ada umurnya. Gigi susu sebaiknya tanggal secara alami. Bila tanggal sebelum umurnya, akan menyesatkan keluarnya gigi tetap. Susunan gigi tetap yang tidak seteratur gigi susu apabila gigi susu sudah tanggal sebelum umurnya.

Gigi susu yang membukakan jalan bagi keluarnya gigi tetap. Bila gigi susu sudah tak ada, sementara gigi tetap belum cukup matang untuk keluar, maka arah keluarnya tidak mengikuti jalan gigi susu. Maka posisi gigi tetapnya tak tentu arah. Setelah dewasa susunan gigi-geligi anak menjadi mirip ban radial.

Agar gigi susu tanggal pada umurnya, gigi harus dirawat. Karena lapisan luar (enamel) gigi susu tidak sekuat gigi tetap, gigi susu lebih gampang keropos. Pengeroposan gigi biasanya terjadi oleh proses mikrobiologis dan kimiawi.

Sisa makanan berkarbohidrat (nasi roti, ubi, ketela, kentang) dan yang serba manis, bila terselip pada permukaan gigi akan terjadi proses fermentasi. Bersama dengan kuman di rongga mulut, membentuk zat asam. Zat asam lactat ini yang akan menghancurkan lapisan luar gigi membentuk caries, atau gigi bolong.

Diseka kapas, berkumur, dan sikat gigi
Maka di permukaan gigi tidak boleh ada sisa makanan. Khususnya yang berkarbohidrat, seperti biskuit, cokelat, permen, kue, es krim, dan sejenisnya. Membiarkan sisa makanan berarti gagal mencegah pengeroposan gigi. Gigi yang keropos dan tidak dirawat, akan hancur, tanggal, lalu berakhir sebagai sisa akar.

Bayi belum mampu berkumur, apalagi menyikat gigi sendiri. Maka selama masa bayi, ibu sendiri yang membantu menyeka permukaan gigi anak dengan kapas basah steril. Setiap kali selesai makan dan minum, biasakan menyeka gigi. Kesehatan gigi balita ditentukan oleh perawatan gigi semenjak usia bayi.

Setelah anak mampu berkumur, biasakan mengajaknya berkumur-kumur setiap kali selesai makan dan minum. Ajarkan pula menyikat gigi. Mungkin belum sempurna. Ibu perlu membimbingnya menyikat gigi yang benar.

Pada usia balita rata-rata anak sudah mahir menyikat gigi sendiri. Biasakan paling kurang dua kali sehari. Pagi hari sehabis sarapan, dan malam hari sebelum tidur. Siang hari, dan setiap kali selesai makan, sekurang-kurangnya berkumur-kumur.

Menyikat gigi malam hari sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang pagi hari. Mengapa? Oleh karena selama tidur malam hari mulut terkatup. Selama mulut terkatup, bila ada sisa makanan pada permukaan gigi, ia akan bertahan lebih lama menetap di situ. Sedang selama siang hari, anak masih melakukan kegiatan makan dan minum, sehingga bila ada sisa makanan yang terselip di permukaan gigi akan terhanyut terbawa oleh makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Anak yang tidak menyikat gigi malam hari risiko pengeroposan giginya lebih besar. Gigi keropos dan dibiarkan tanpa perawatan menimbulkan warna hitam pada permukaan gigi. Lama-kelamaan terjadi pembusukan gigi. Lalu infeksi akar gigi, infeksi gusi, dan gusi membengkak. Selanjutnya gigi akan hancur, rusak sebelum waktunya.

Untuk menyehatkan gigi balita, biasakan menggigit apel, jambu, bengkuang, timun, dan sejenisnya. Selain melatih kekerasan gigi, dengan menggigit buah keras, permukaan gigi dibersihkan. Demikian pula yang diperoleh selama mengunyahnya.

Segera ditambal bila mulai bolong
Gigi susu yang sudah mulai keropos perlu dirawat, sebelum telanjur bolong. Untuk itu perlu penambalan. Adakalanya, sekalipun sudah teratur menyikat gigi, bila benih giginya kurang bagus, gigi masih bisa keropos juga (decalcification).

Dengan melakukan penambalan gigi susu, gigi diharapkan masih mampu bertahan sampai umurnya. Dengan demikian, ia akan menunggu sampai saatnya gigi tetapnya mulai keluar.

Pemberian ekstra kalsium saja hanya bermanfaat semasa gigi belum keluar. Pembentukan benih gigi membutuhkan kalsium. Percuma apabila gigi sudah erupsi. Bila diduga kualitas gigi kurang bagus, perlu diberikan ekstra fluor. Fluor bisa terkandung dalam air minum (leding) dan pasta gigi. Atau berupa pengolesan fluor pada permukaan gigi setiap enam bulan sekali.

Menyikat gigi yang benar pada anak harus dibentuk. Jika sudah keliru sejak awal, selanjutnya akan terbentuk cara menyikat yang tidak benar. Prinsipnya seluruh permukaan gigi tidak ada yang terluput dari penyikatan.

Sering-sering bagian-bagian permukaan gigi yang sulit tersentuh, atau sukar dijangkau, lokasi gigi yang sering terancam keropos. Maka upayakan bukan sekadar menyikat gigi belaka. Terlebih ihwal menyikat gigi malam hari. Karena sepanjang malam hari inilah proses hebat pengrusakan gigi yang paling kerap terjadi.

sumber: SahabatNestle

Telapak Tangan Bukan Termometer!

Menempelkan telapak tangan ke dahi di Buyung atau si Upik bukan cara tepat untuk menggolongkan suhu badannya panas, normal, atau dingin.

Naiknya suhu tubuh bukan serta merta petunjuk ia harus diminumi obat turun panas. Dr. Paul Zakaria daGomez, ahli imunologi, menguraikan duduk persoalannya, termasuk kapan obat turun panas diperlukan.

Setiap hari televisi menyuguhkan pelbagai macam iklan obat penurun panas. Semuanya mengklaim serba cespleng! Orang tua mana yang tidak cemas kalau anaknya menderita panas? Nomor satu pasti buru-buru mencari obat penurun panas, entah dari lemari obatnya sendiri, beli di warung, atau minta tetangga.

Setiap kali anak kita tidak enak badan, pasti gerakan refleks kita langsung menempelkan tangan ke dahi atau lehernya. Tapi telapak tangan sebagai alat pengukur panas sebenarnya bersifat sangat subyektif. Artinya, ia tidak dapat digunakan sebagai patokan untuk menggolongkan apakah suhu seseorang panas, normal, atau dingin.

Seseorang dengan metabolisme tubuh rendah atau menderita anemia di mana suhu tangannya lebih dingin, akan lebih peka bila meraba seseorang yang suhu tubuhnya tinggi dibandingkan dengan mereka yang metabolisme tubuhnya normal dan suhu tangannya lebih hangat. Karena tingkat metabolisme dan mekanisme sirkulasi darah tiap individu bervariasi, sudah tentu mengukur suhu badan seseorang dengan punggung telapak tangan tidaklah tepat.

Karena itu setiap keluarga hendaknya menyediakan termometer air raksa yang harganya relatif murah. Alat pengukur panas ini lebih bisa diandalkan. Dalam keadaan sangat mendesak data tersebut bahkan bisa langsung dikonsultasikan ke dokter lewat telepon.

Mekanisme kekebalan
Suhu rata-rata tubuh normal dan sehat seseorang menurut beberapa peneliti barat seperti Becquerel dan Berscher (1835) dan Wunderlich (1868), adalah 37 derajat C.

Suhu tubuh normal seseorang sesungguhnya bervariasi tergantung pada waktu pengukuran (pagi, siang atau malam), tempat pengukuran (dalam rongga mulut, di ketiak, atau dalam dubur), faktor usia serta tingkat metabolisme (sebelum atau sesudah makan, sebelum atau setelah melakukan aktivitas fisik). Pengukuran suhu dengan termometer lewat rongga mulut atau dubur akan lebih tepat daripada lewat ketiak.

Suhu tubuh paling rendah pada pagi hari (pukul 5.00 - 6.00) dan paling tinggi senja hingga malam hari. Perbedaan antara suhu terendah dan tertinggi bervariasi, sekitar 0,3 C-1,5 C. Semula perbedaan itu diduga hanya karena perbedaan cuaca, suhu serta kelembapan saja, ternyata juga karena faktor irama diurnal (saat tidur dan melek) yang berkembang sejak usia 1 - 2 tahun dan berlangsung terus seumur hidup.

Suhu tubuh rata-rata orang dewasa di bawah 37 C. Seorang peneliti, Horvath SM dkk. pernah meneliti 54 orang dewasa muda (usia 23 tahun) selama beberapa bulan dengan kesimpulan, nilai rata-rata suhu rongga mulut pada pagi hari 36,5 C dan malam hari 36,8 C.

Peneliti lain, Dinarello dan Wolff dari Inggris melaporkan, hasil penelitian pada sembilan orang dewasa mudah (22 tahun), dalam seharinya rata-rata suhu badan mereka 36,6 C dengan nilai terendah 36,4 C dan tertinggi 36,8 C. Suhu rata-rata rongga mulut orang tua lebih rendah daripada orang muda, tetapi suhu duburnya sama.

Padahal suhu anus biasanya lebih tinggi daripada suhu rongga mulut. Perbedaan ini sangat bervariasi. Pada orang muda, suhu lubang keluaran itu rata-rata 0,56 C lebih tinggi daripada suhu rongga mulut.

Pada anak usia kurang dari 12 tahun, suhu tubuh waktu malam hari sering lebih tinggi, rata-rata 37,4 C. Sebagai pedoman kasar, suhu tubuh anak yang tidak melebihi 38 C (antara 36 C - 38 C) tidak perlu dirisaukan karena belum merupakan indikasi untuk diberi obat penurun panas. Karena sebenarnya suhu yang agak panas malah diperlukan untuk pertumbuhan dan sebagai salah satu mekanisme untuk mempertahankan tubuh dari serangan infeksi atau masuknya benda asing ke dalam tubuh.

Hal ini pernah dikemukakan oleh seorang ahli imunologi - infeksi dari Belanda, van den Meer. Kemudian, ia mengingatkan hendaknya pemakaian obat penurun panas terlalu dini berarti tidak memberikan kesempatan pada tubuh untuk melaksanakan fungsi mekanisme pertahanan tubuh (kekebalan). Kalau jamur yang sedang tumbuh (misalnya pada oncom dan tempe) menghasilkan panas dan membutuhkan kalori, demikian pula manusia. Tumbuh kembang anak lebih pesat daripada orang dewasa sehingga secara otomatis menghasilkan panas lebih banyak pula.

Menurunkan panas tanpa obat
Untuk mengatasi demam, lebih baik mengusahakan dulu dengan menyeka seluruh permukaan tubuh beberapa kali (terutama sewaktu suhu tubuh meningkat) dengan handuk kecil dibasahi air hangat.

Tindakan ini akan melancarkan sirkulasi darah dan membuka pori-pori kulit sehingga memberikan kesempatan panas keluar dari tubuh ke lingkungan sekitarnya. Ruang ventilasi yang baik di mana udara berlangsung secara teratur atau kamar ber- AC, sangat dianjurkan untuk merawat penderita demam.

Pakaian yang sudah basah karena keringat hendaknya segera diganti dengan yang kering. Sebaiknya dari katun yang lebih mengisap keringat, bukan yang sintetis. Bila usaha ini tidak berhasil dan suhu badan mencapai 38 C, barulah penderita diberi obat penurun panas (anti- piretika). Dosis obat penurun panas jenis asetaminofen, yang umum dijual di warung atau apotek seperti Tempra, Panadol, Parasetamol, dll adalah 10 mg/kg berat badan/hari dibagi 3 dosis (diminum 3 kali sehari).

Bila sudah diberi obat penurun panas dua kali tetapi suhu badan tetap belum turun juga, berkonsultasilah ke dokter. Mungkin demam yang diderita bisa karena infeksi bakteri yang agak berat yang tidak bisa mengandalkan mekanisme kekebalan tubuh atau obat penurun panas saja, tapi memerlukan obat antibiotika. Biarlah dokter yang menentukan pemilihan obatnya. (intisari)

Sumber: KOMPAS

Pasien DEMAM Jangan Diselimuti

Oleh: Prof.Dr. Iwan Darmansjah, Sp. Fk, Farmakolog

Apa yang harus dilakukan bila ada anggota keluarga terserang demam?

Pertama, ia harus istirahat. Menyelimutinya dengan selimut tebal -- ini yang kerap terjadi-- justru tidak dibenarkan. Udara tubuh yang panas malah tidak bisa menguap sehingga suhu akan tambah naik, dan pada anak-anak malah bisa kejang (stuip). Rasa dingin terjadi karena suhu tubuh sedang naik mendadak.

Tindakan yang paling baik adalah menyeka seluruh tubuh penderita dengan kain basah terus-menerus selama 5-7 menit. Dengan menguapnya air dan kulit, tubuh ikut didinginkan sehingga saat itu biasanya suhu tubuhnya mulai turun. Tidak baik memakai alkohol untuk tujuan itu karena alkohol akan diserap oleh kulit. Melakukan kompres hanya di kepala juga tidak efektif karena kontak permukaan terlalu kecil. Selain itu, penderita harus diberi minum banyak untuk ikut mendinginkan tubuhnya.

Demam atau panas memang gejala yang dapat berdiri sendiri atau bagian dari kumpulan gejala suatu penyakit. Demam merupakan suatu tanda penting untuk diperhatikan karena pada awalnya sering tidak atau belum dapat diketahui penyebab, dan berbahaya atau tidaknya.

Bila timbul demam, sebaiknya ukur suhu ketiak dengan termometer empat kali sehari tiap 4-5 jam. Suhu ini perlu dicatat untuk diperlihatkan pada dokter. Dokter yang nanti memeriksanya itu dapat memperoleh kesan jenis penyakitnya dari naik turunnya suhu badan. Misalnya suhu pada penyakit tifus, pada 3-4 hari pertama hanya naik malam hari sedangkan pagi panasnya hilang. Demam karena tifus, pada hari-hari awalnya hampir selalu dimulai dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Jadi, bila suhu badan hari pertama sudah sekitar 39-40 derajat C disertai menggigil, hampir dapat dipastikan ini bukan tifus. Tifus baru dicurigai bila demam sudah berjalan 4-5 hari atau lebih.

Demam yang pada hari pertama saja sudah mendadak tinggi, biasanya disebabkan oleh penyakit akibat virus, seperti influenza atau demam berdarah. Tentu ada banyak penyakit infeksi lain yang pola suhunya mirip tifus atau infeksi virus, namun di Indonesia dapat dikatakan 90% demam yang mendadak tinggi disebabkan oleh virus. Karena itu, demam yang sudah diderita lebih dari 2-3 hari perlu dikonsultasikan ke dokter karena perlu ditentukan penyebabnya. Di negara kita, salah satu penyebab yang sangat dikhawatirkan ialah demam berdarah yang banyak terjadi di akhir musim penghujan.

Bila pelbagai upaya awal untuk menurunkan demam tidak berhasil penderita dapat diberi obat penurun panas yang juga mempunyai sifat mengurangi rasa sakit, pegal, dan sakit kepala.

Obat pilihan pertama ialah parasetamol yang dijual dengan berbagai nama dagang. Menurut peraruran Depkes, semua obat yang dijual bebas harus menuliskan nama generik di bawah nama dagangnya yang dicantumkan di bawah "kandungan". Namun, patut diingat bila gejalanya hanya demam, tidak dibenarkan untuk menggunakan parasetamol yang dicampur dengan bahan aktif lain, misalnya untuk pilek, batuk, dan sebagainya. Tambahan bahan lain itu selain tidak ada gunanya, juga menjadikan obat lebih mahal. Belum lagi bila menimbulkan efek sampingan, akan menjadi mubazir.

Obat lain yang juga baik ialah ibuprofen karena efektif dan aman, namun mungkin belum begitu dikenal masyarakat. Asetosal (dikenal sebagai aspirin) tidak dianjurkan bila lambung pasien tidak tahan karena sifat asamnya. Asetosal dalam dosis 1 tablet dewasa menyebabkan darah menjadi encer sehingga perdarahan (seperti dalam haid atau terluka) akan sulit berhenti karena darah tidak dapat membeku. Asetosal juga tidak dianjurkan bila penyebab demam adalah virus (campak, cacar air, dan sebagainya), terutama pada anak karena asetosal dihubungkan dengan komplikasi fatal yang disebut Reye syndrome.

Pilihan lain yang tidak termasuk golongan obat bebas ialah asam mefenamat (kecuali yang 250 mg untuk orang dewasa) yang dikenal masyarakat sebagai Ponstan, dan dipiron (dikenal sebagai Antalgin atau Novalgin). Kedua obat mi tidak dibenarkan dibeli di toko obat atau apotek karena harus memakai resep. Seperti diketahui, kemasan obat bebas ditandai dengan lingkaran hijau atau biru, sedangkan obat resep lingkaran merah. (intisari)

sumber: KOMPAS

Jangan Panik, Demam Bukan Penyakit!

Oleh: dr. Purnamawati S.Pujiarto, Sp. AK, MMPed

Banyak orang tua panik alang-kepalang, ketika menyadari anaknya menderita demam. Mereka menganggap demam sebagai penyakit yang harus segera dibasmi. Padahal, demam hanyalah gejala, bukan penyakit.

Ketika anak mengalami peningkatan suhu tubuh, hal pertama yang harus dilakukan bukan mengkhawatirkan demamnya, melainkan mencari penyebabnya.

Secara garis besar, demam bisa diakibatkan oleh infeksi, bisa juga bukan infeksi. Pada bayi dan anak penyebab utama demam umumnya infeksi, terutama infeksi virus. Ketika terserang infeksi, tubuh berusaha membasmi infeksi itu dengan mengerahkan sistem imun.

Sel darah putih dan semua perangkatnya bekerja keras menghancurkan penyebab infeksi, membentuk antibodi untuk menetralkan musuh, serta membentuk demam. Kehadiran sang demam akan membantu membunuh virus, karena virus tidak tahan suhu tinggi. Sebaliknya, virus akan tumbuh subur di suhu rendah.

Dunia kedokteran membuktikan, pada umumnya demam bukan kondisi yang membahayakan serta mengancam keselamatan jiwa. Beberapa kepustakaan kedokteran menulis, demam merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk memerangi infeksi. Ia ibarat alarm yang memberitahukan bahwa sesuatu tengah terjadi di dalam tubuh.

Tubuh kita dilengkapi berbagai sistem pengaturan canggih, termasuk pengaturan suhu tubuh. Manusia memiliki pusat pengaturan suhu tubuh (termostat), terletak di bagian otak yang disebut dengan hipotalamus. Pusat pengaturan suhu tubuh itu mematok suhu badan kita di satu titik yang disebut set point.

Hipotalamus bertugas mempertahankan suhu tubuh agar senantiasa konstan, berkisar pada suhu 37°C. Itu sebabnya, di mana pun manusia berada, di kutub atau di padang pasir, suhu tubuh harus selalu diupayakan stabil, sehingga manusia disebut sebagai makhluk homotermal.

Termostat hipotalamus bekerja berdasarkan asupan dari ujung saraf dan suhu darah yang beredar di tubuh. Di udara dingin hipotalamus akan membuat program agar tubuh tidak kedinginan, dengan menaikkan set point alias menaikkan suhu tubuh. Caranya dengan mengerutkan pembuluh darah, sehingga badan menggigil dan tampak pucat.

Sedangkan di udara panas, hipotalamus tentu saja harus menurunkan suhu tubuh untuk mencegah heatstroke. Caranya dengan mengeluarkan panas melalui penguapan. Pembuluh darah melebar, pernapasan pun menjadi lebih cepat. Makanya, pada saat kepanasan, selain berkeringat, kulit kita juga tampak kemerahan (flushing).

Salah kaprah lainnya, banyak orangtua yang menentukan anaknya demam atau tidak hanya berdasarkan perabaan tangan. Padahal, anak bisa saja teraba hangat kalau ia habis bermain di tempat panas; di lain pihak, anak teraba dingin (seperti tidak demam) ketika dia mengalami renjatan atau shock, semisal dengue shock syndrome.

Ketika demam, otak mematok suhu di atas set point normal, yaitu di atas 38°C. Dengan menggunakan termometer, anak dinyatakan demam jika suhu tubuhnya 38°C (diukur di rektum atau ujung usus besar, termometer dimasukkan melalui anus), 37,5°C apabila diukur di mulut, serta 37,2°C jika diukur di ketiak.

Akibat tuntutan peningkatan set point, tubuh akan memproduksi panas. Proses pembentukan panas itu terdiri dari tiga fase. Pertama, menggigil (berlangsung sampai suhu tubuh mencapai puncaknya), lalu suhu tubuh tetap tinggi untuk beberapa jam (fase kedua), dan suhu tubuh turun jadi normal atau mendekati normal (fase ketiga).

Satu lagi, makin tingginya suhu saat demam tidak menandakan penyakit yang lebih parah. Infeksi virus ringan, seperti selesma misalnya, bisa menyebabkan demam yang cukup tinggi. Di lain pihak, bayi baru lahir dengan infeksi berat sekali pun bisa saja suhu tubuhnya tidak meningkat atau hanya sedikit peningkatannya.

Jadi, jangan gampang dibuat panik oleh demam.

sumber: KOMPAS

Pentingnya Matahari Bagi Bayi

Bayi kuning yang dalam bahasa kedokteran disebut sebagai Ikterus Neonatarum adalah kondisi yang terjadi ketika produksi bilirubin di tubuh bayi berlebihan dan si bayi tak mampu mengeluarkannya lewat berkemih dan buang air besar.


Pasangan Anton-Dewi sedang berbahagia. Putra pertama mereka lahir dengan selamat. Berat dan tinggi badannya normal dengan kulit yang kekuningan. "Wah, cantiknya kulitnya kuning langsat seperti mamanya. Anteng lagi, tidur terus," kata salah seorang teman mereka yang membesuk ke rumahnya.

Tapi saat periksa, sekitar empat hari sejak melahirkan, dokter memutuskan untuk merawat inap putra Anton-Dewi. "Kenapa harus dirawat? Anak saya sehat kok. Cuma agak rewel saja kalau disusui. Wajar kan, mungkin dia belum terbiasa," kata Dewi.

Dokter mengatakan bahwa anak Dewi mengalami gejala bayi kuning atau dalam bahasa kedokteran disebut sebagai Ikterus Neonatarum (IK). Ini adalah kondisi yang terjadi ketika produksi bilirubin di tubuh bayi berlebihan dan si bayi tak mampu mengeluarkannya lewat berkemih dan buang air besar.

Gejala ini sangat umum terjadi pada bayi yang baru lahir antara usia satu sampai tujuh hari. Bahkan menurut Dr. Sumarwoto, SpA angka kasusnya cukup tinggi. Yaitu sekitar 60 persen pada bayi yang lahir cukup bulan, dan 80 persen pada bayi yang lahir kurang bulan.

Meski cukup umum terjadi, bukan berarti masalah ini boleh diremehkan. "Kadar bilirubin yang terus meningkat tanpa dikendalikan bisa menempel di otak bayi, sehingga menyebabkan bayi menderita penyakit yang sering disebut otak kuning," kata dr. Sutikno. Penyakit otak kuning ini bisa menghalangi perkembangan motorik dan sensorik anak beberapa tahun kemudian.

Ada kasus ketika seorang anak hingga usia dua tahun tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, berbicara atau melakukan kegiatan anak normal seusianya. Setelah diperiksa ternyata si anak, ketika bayi pernah mengalami kasus bayi kuning ini hingga bilirubinnya mencapai angka 42 mg/dl!

Sebagai catatan kadar bilirubin yang normal pada bayi yang baru lahir hanya sekitar 12 mg/dl saja. "Maka sebaiknya orang tua waspada pada masalah ini. Kenali gejala-gejala bayi yang kuning sedini mungkin," kata Dr. Sumarwoto, SpA.

Yang mesti dipahami orang tua, gejala bayi kuning sangat berbeda dengan penyakit kuning pada orang dewasa yang disebabkan karena infeksi virus Hepatitis. Gejala bayi kuning disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin, zat berwarna kuning, dalam darah.

Bilirubin terjadi dari pemecahan hemoglobin pada bagian sel darah merah yang disebut sebagai eritrosit. Pada bayi yang terlahir dengan gejala bayi kuning, proses pemecahan hemoglobin ini terjadi saat bayi masih berupa janin. Karena suatu sebab bilirubin dalam tubuh bayi yang baru lahir ini tak bisa terbuang secara alami lewat berkemih dan buang air besar, sehingga mengendap di bawah jaringan kulit. Diduga tidak lancarnya pembuangan bilirubin ini akibat belum berkembangnya fungsi jantung pada anak.

Penyembuhan kasus bilirubin ini sebenarnya cukup sederhana jika gejalanya bisa dikenali sedini mungkin. Pertama biasanya pihak medis akan menganjurkan ibu si bayi untuk sesering mungkin memberikan ASI pada bayi. "Pada beberapa kasus, saat ASI ibu tidak keluar dengan sempurna, kami akan memberikan susu formula. Tapi dibanding susu formula, ASI tetap lebih baik karena mengandung kolostrum atau antibodi yang sangat tinggi," kata Dr. Sutikno.

Selain memberikan ASI, dianjurkan juga untuk menjemur bayi di panas matahari pagi sekitar pukul 07.00-08.00. Sinar matahari sangat baik untuk memecah bilirubin tak larut dalam air dan mengendap di bawah kulit. Endapan tersebut nantinya akan terbuang melalui kemih dan buang air besar bayi. Dalam masa pengobatan biasanya bayi akan mengalami diare. "Tapi ini tak mengkhawatirkan, justru membuktikan bilirubin terbuang dengan baik," kata Dr. Sutikno.

Namun jika mengalami kadar bilirubin mencapai 12 mg/dl atau lebih biasanya akan dilakukan adalah memberi sinar lampu dalam inkubator selama 2-3 hari berturut-turut. Pada kasus tertentu, saat bilirubin meningkat hingga melampaui batas yang bisa ditolerir maka dokter biasanya akan menganjurkan untuk melakukan transfusi tukar. Yaitu menukar darah bayi dengan jenis darah yang sesuai dengan kondisi tubuhnya.

Pencegahan kasus bilirubin ini bisa dilakukan dengan melakukan pemeriksaan medis pra pernikahan. Ini penting untuk menghindari ketidakcocokan darah pada anak-anak yang terlahir kemudian. Juga untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang bisa diturunkan pada keturunan mereka kelak. Selanjutnya kasus bayi kuning ini bisa dihindari dengan pemeriksaan rutin saat kehamilan, persalinan hingga observasi medis selama masa nifas. (utami)

sumber: KlinikNet

BAYI KUNING? HATI-HATI !

Memang, jika cepat tertangani, kuning pada bayi tak perlu dicemaskan. Apa saja yang harus kita waspadai?

"Bayinya belum bisa pulang karena kuning." Begitu, kan, yang sering kita dengar tentang bayi yang baru lahir.

Bayi kuning, ada dua macam. Yaitu yang faali (fisiologis) dan patologis. Yang patologis adalah yang dapat menganggu tumbuh kembang bayi di kemudian hari. "Yang faali disebut juga kuning yang normal. Umumnya terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14 hari. Walaupun secara faali, tetapi perlu diwaspadai. Karena kuning yang faali mungkin mempunyai latar belakang patologis," ungkap Prof. Dr. dr. Nartono Kadri, Sp.A(K), dari Bag. Perinatologi, Ilmu Kesehatan Anak Fak. Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Selain itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama dan kedua, yang berangsur-angsur akan hilang sendiri. "Ini gejala biasa. Di dalam ASI ada komponen yang mempengaruhi timbulnya kuning pada bayi. Tidak berbahaya, kok," jelas Nartono. Kendati demikian, lanjutnya, orangtua harus tetap waspada. Terutama kalau si bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan acidosis (penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah). Misalnya, sesak napas atau mencret berat. "Sebab, kadar bilirubin bebas bisa meningkat."

Nah, berikut ini sejumlah hal mencurigakan yang harus diwaspadai.

* Bila kuningnya muncul cepat sekali. Misalnya, pagi lahir, sorenya sudah kuning.
* Peningkatan kadar kuning cepat sekali.
* Lamanya kuning berlangsung. Bila kuningnya hilang sangat lambat, misalnya sesudah 2 minggu masih kuning terus, waspadalah.

Lalu apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi? "Segera bawa ke dokter!" pesan Nartono.

PENYEBAB

Cara termudah untuk mendeteksi bayi menderita kuning atau tidak, sebetulnya tak terlampau sulit. "Lihat di bagian putih mata bayi saat ia menyusu. Kalau kuning, akan terlihat jelas di matanya!"

Kuning pada bayi timbul karena adanya timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit. Sebab itulah kulit si bayi terlihat kuning.

Pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah yang sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Nah, sel darah merahlah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke bayi melalui plasenta. "Sesudah ia lahir, parunya sudah berfungsi, sehingga sel darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan. Salah satu hasil pemecahan itu adalah bilirubin."

Bilirubin alias pecahan hemoglobin ini pun bermacam-macam: indirect, direct, dan bebas. Yang indirect atau yang belum diolah, yaitu bilirubin yang terikat albumin sebagai zat pengangkut, akan dibawa ke hati untuk diproses menjadi bilirubin direct. Bilirubin direct ini akhirnya disimpan di kantong empedu.

Kadang tidak semua hasil pemecahan hemoglobin ini bisa diikat oleh albumin dan dibawa ke hati. Sebagian tidak terangkut dan disebut bilirubin bebas. Justru bilirubin inilah yang berbahaya. "Karena ia bisa gentayangan ke mana-mana. Terutama kalau ia masuk ke otak, tak bisa dilepas lagi." Jika sampai masuk ke otak, "Akan menimbulkan penyakit yang disebut kern ikterus atau timbunan bilirubin di dasar otak," jelas Nartono.

Namun oleh suatu keadaan tertentu, bilirubin indirect pun bisa pecah lagi menjadi bilirubin bebas. Yaitu jika si anak dalam keadaan sakit atau mencret, yang menyebabkan ia kehilangan banyak cairan. Kekurangan cairan (juga oksigen) akan mengakibatkan lepasnya albumin sehingga ia menjadi bilirubin bebas yang membahayakan.

Lantas di mana terjadinya pemecahan sel darah merah? Ia bisa terjadi karena adanya tabrakan-tabrakan di saluran pembuluh darah, di sel-sel hati, atau di sel limfa. Kadang pemecahan sel darah merah terjadi sangat berlebihan sehingga meningkatkan kadar bilirubin. Ini biasanya disebabkan beberapa hal:

1. Karena hemolisis (hancurnya sel darah merah). Ini terjadi bila:
* Adanya ketidakcocokan darah ibu dan bayi (A,B,O atau rhesus)
* Kekurangan enzym, yang sering dikenal dengan G-6-PD
* Adanya kelainan sel darah merahnya sendiri

Pada ketidakcocokan golongan darah, misalnya bila si ibu berdarah O, sedangkan si bayi berdarah A atau B. "Pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Kalau darah si janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka si ibu akan membentuk zat antibodinya (zat penangkis). Zat ini sedikit banyak akan mengalir lagi ke tubuh si janin melalui plasenta. Akibatnya, zat antibodi ini akan menghancurkan sel darah merah si bayi, sehingga meningkatkan kadar bilirubinnya."

Sedangkan untuk ketidakcocokan golongan darah akibat rhesus, biasanya terjadi bila ibu golongan darah rhesus negatip dan janin rhesus positip.

2. Karena obat-obatan

Ada beberapa macam obat, misalnya yang mengandung sulfa, bisa menghancurkan sel darah merah. Karena itu, berhati-hatilah memberi obat pada bayi. Konsultasikan pada dokter sebelumnya.

3. Karena infeksi

Bisa infeksi saat bayi dalam kandungan atau infeksi saat di jalan lahir. Misalnya jalan lahir ibunya kotor. Atau infeksi sesudah lahir, semisal karena alat-alat bayi tidak steril sehingga racunnya menghancurkan sel darah merah.

Selain karena pemecahan sel darah merah yang berlebihan, peningkatan kadar bilirubin bisa juga berasal dari penyumbatan. Yaitu bila saluran empedunya tersumbat, sehingga bilirubinnya tidak bisa dikeluarkan. Atau juga bila hatinya membengkak (hepatitis), sehingga pipa-pipanya tersumbat. Umumnya kuning yang disebabkan oleh penyumbatan terlihat sesudah minggu kedua atau lebih.

Bagaimana membedakan kuning pada bayi karena bilirubin yang indirect (pemecahan yang belebihan) atau direct (penyumbatan)? "Lihat dari kotorannya. Bila kotorannya kuning, biasanya karena pemecahan. Tapi yang disebabkan penyumbatan, kotorannya akan terlihat putih seperti dempul. Hal ini karena empedunya tidak bisa masuk usus, sehingga kotoran tidak bisa diolah dan menyebabkan berwarna putih."

AKIBAT DAN TERAPI

Untuk bilirubin yang berasal dari pemecahan yang berlebihan, asalkan cepat ditangani biasanya dapat cepat sembuh. "Jika terlambat ditangani, bisa menjadi kern ikterus atau meninggal." Bayi pengidap kern ikterus, lanjut Nartono, akan mengalami kelainan perkembangan. Yakni berupa gangguan susunan saraf pusat atau panca indra. Entah itu berupa kelainan motorik, gangguan perkembangan mental, tuli, lambat bicara, ataupun susah belajar. "Tergantung berapa luas dan berapa banyak timbunannya. Serta di bagian otak sebelah mana ia tertimbun."

Pada bayi dengan kasus seperti ini, salah satu tindakan yang dilakukan adalah memberinya cukup cairan. "Bila kadar bilirubinnya masih ringan, cukup dijaga agar cairan tubuh tidak berkurang. Tiga atau empat jam sekali, bayi harus diberi susu."

Terapi lain adalah yang disebut sinar biru (blue light therapy). "Bisa juga dengan bantuan sinar matahari. Tapi jangan dijemur secara langsung di bawah matahari. Cukup asal terkena sinarnya saja."

Namun jika kadar kuning tinggi sekali dan amat cepat kenaikannya, dokter akan melakukan transfusi tukar. Darah bayi yang sudah mengandung bilirubin dikeluarkan, diganti dengan darah baru.

Sedangkan untuk bilirubin yang berasal dari penyumbatan, bila tidak segera ditangani akan menyebabkan kerusakan hati. "Hatinya bisa mengecil (sirosis) dan mengeras. Untuk ini, dokter akan membedah tempat yang tersumbat tadi," jelas Nartono.

Ia juga mengingatkan, untuk bayi kuning yang disebabkan kekurangan enzym yang disebut G-6-PD, sebaiknya tidak menggunakan kapur barus untuk baju-baju bayi. "Memang tidak semua bayi akan menjadi kuning bila pakaiannya terkena kapur barus. Tapi dalam kasus bayi yang G-6-PD ini, enzym di dalam darah merah si bayi kurang, sehingga sel darah merah mudah pecah dan menjadi bilirubin karena dampak kapur barus."

sumber: Nakita VIII no.388

Bayi Kuning

Penjelasan seorang dokter, tentang mengapa bayi menjadi kuning.

Semua, sekali lagi semua, bayi manusia akan mengalami proses "menjadi kuning" yang disebut sebagai " icterus neonatorum " ; tergantung berat ringan nya maka ada bayi yang nyata terlihat berwarna kuning dan ada yang tidak disadari karena hanya ringan saja.

Icterus neonatorum yang fisiologis akan timbul pada usia bayi 3-5 hari, kadar bilirubin tidak lebih dari 12 mgr%, dan akan hilang dalam waktu kira2 7 hari. Bayi tidak perlu dirawat di RS, cukup mendapat sinar matahari pagi dirumah.

Mengapa hal ini terjadi ?
Karena terjadi proses pergantian jenis hemoglobin bayi ( bukan golongan darah ), dari jenis HbF (fetus) yang dipergunakan selama didalam rahim , menjadi jenis HbA (adult) yang akan dipergunakan didunia ini. Tergantung dari keadaan bayi, bila dia normal maka proses perubahan ini akan berlangsung dalam hati (hepar) yang normal sehingga proses kuning akan ringan atau bahkan lolos dari perhatian orang tuanya.

Yang patologis, bila timbul dalam 3 hari pertama dengan kadar bilirubin lebih dari 12 mgr% dan berlangsung lebih lama, hal ini berbahaya sampai dapat menimbulkan apa yang disebut Kern icterus bahkan dapat menyebabkan kematian bayi; bayi demikian perlu dirawat di RS bahkan mungkin diperlukan proses "penggantian darah" (exchange transfusion).

Icterus yang patologis, selain disebabkan perubahan HbF menjadi HbA, diperberat dengan hal2 abnormal lain, misalnya prematuritas, infeksi waktu persalinan , trauma persalinan, perdarahan, ketidak cocokan golongan darah ,kelainan hepar bayi dll

sumber: ** From: "Dr. Hendra Gunawan Widjanarko" <[EMAIL PROTECTED]>

Flu Burung

Penyebaran flu burung di daerah yang tertular bisa dicegah
  • orang sebaiknya menghindari kontak dengan ayam, bebek dan unggas lainnya kecuali sangat perlu. Ini adalah cara terbaik untuk mencegah infeksi oleh flu burung.

  • Anak anak memiliki resiko yang lebih tinggi karena mungkin mereka bermain di tempat di mana unggas berada


  • Ajarilah anak anak untuk mengikuti petunjuk berikut :
    Hindari kontak dengan unggas jenis apapun, dengan bulu bulunya, kotoran maupun limbahnya.
    Jangan memelihara unggas sebagai hewan kesayangan.
    Cucilah tangan dengan air dan sabun setiap sesudah bersentuhan dengan unggas.
    Jangan tidur di dekat tempat pemeliharaan unggas.

  • Jangan memindahkan unggas baik yang hidup maupun yang mati dari satu tempat ke tempat lain, bahkan sekalipun anda kira unggas tersebut sehat.

  • Menangani unggas di daerah tertular harus dilakukan ditempat, tanpa memindahkannya ke luar dari area tersebut.

  • Jangan memasak unggas berasal dari daerah tertular untuk makanan keluarga maupun hewan peliharaan anda. Penyembelihan dan penanganan unggas tersebut untuk makanan adalah berbahaya.

  • Apabila anda secara tidak sengaja kontak dengan unggas di daerah tertular, seperti misalnya menyentuh badan unggas, feses atau kotoran unggas yang lain, atau berjalan di atas tanah di mana ada kotoran unggasnya:
    o Cucilah tangan sampai bersih memakai air dan sabun sesudah setiap kontak.
    O Lepaskan sepatu di luar rumah dan dibersihkan.
    O Periksa suhu tubuh anda sekali setiap hari selama 7 hari. Apabila anda demam ( di atas 37.5 oC), periksakan diri anda ke dokter atau ke rumah sakit terdekat dengan segera.

  • Penanganan yang benar terhadap unggas yang sakit, diduga karena flu burung atau unggas yang mati merupakan kontrol yang penting untuk mencegah penyebaran penyakit.
  • Anak anak di jaga agar tidak mendekati unggas yang sakit atau mati.

  • Apabila anda harus menangani unggas yang mati atau sakit, pakailah alat pelindung, seperti masker, goggle (pelindung mata), sepatu boot, sarung tangan.

  • Apabila peralatan tersebut tidak tersedia, gunakan kain/sapu tangan untuk menutup mulut dan hidung, pakailah kaca mata, gunakan tas plastik sebagai sarung tangan dan pembungkus sepatu dan mengikatnya pada pergelangan tangan dan kaki dengan karet. Pakailah baju overall yang bisa dicuci.
  • Apabila anda baru pertama kali mendapati unggas yang sakit atau mati dan tidak yakin situasinya, segera beritahu petugas yang berwenang dan serahkan penangan unggas tersebut kepada ahlinya.

  • Dekontaminasi kebun atau kandang ayam akan membantu menghambat penyebaran penyakit.
  • Apabila mungkin, mintalah jasa petugas yang ahli untuk membantu dekontaminasi kebun atau kandang ayam.

  • Apabila hal itu tidak mungkin, dan anda harus mengejakannya sendiri, pakailah perlengkapan untuk melindungi mata, kepala, tangan, kaki dan bagian bagian lain yg tidak tertutup pakaian.

  • Unggas yang mati harus dikubur dengan aman

  • Pembersihan yang efektif akan menghilangkan bulu bulu atau feses yang tertinggal di kandang.

  • Virus flu bisa bertahan untuk sementara waktu di bahan bahan organic, jadi melalui pembersihan total dengan deterjen merupakan langkah yang amat penting. Semua bahan organic harus disingkirkan dari kandang ayam sedapat mungkin.

  • Oleh karena area terbuka (pekarangan) yang digunakan untuk memelihara unggas sulit untuk di bersihkan ataupun didesinfeksi, unggas sebaiknya ditiadakan dari area tersebut selama paling sedikit 42 hari untuk membiarkan radiasi ultraviolet menghacurkan sisa sisa virus. Periode pengosongan ini perlu diperpanjang pada musim dingin (hujan).

  • Penyemprotan desinfektan pada tumbuh tumbuhan di pekarangan/kebun maupun pada tanah hampir tidak ada gunanya, karena bahan kimia tersebut akan diinaktifkan oleh bahan organic. Pengupasan lapisan tanah biasanya tidak dianjurkan kecuali bila kontaminasi feses pada tanah tersebut sangat berat.

  • Unggas yang mati dan feses/kotorannya harus dikubur.
  • Sedapat mungkin, mintalah bantuan dari petugas peternakan setempat bagaimana cara mengubur bangkai unggas dengan aman.

  • Pada waktu mengubur bangkai unggas dan fesesnya, usahakan untuk tidak menimbulkan debu. Semprotlah terlebih dahulu area penguburan dengan air untuk melembabkan. Kuburlah bangkai unggas dan fesesnya dengan kedalaman paling sedikit 1 meter.

  • Setelah bangkai unggas telah dikubur dengan benar, bersihkan seluruh area dengan seksama menggunakan deterjen dan air. Virus flu relatif bisa dimatikan oleh berbagai jenis deterjen dan desinfektan.

  • Pakaian pelindung yang terkontaminasi harus ditangani dengan benar atau dimusnahkan.
  • Setelah area dibersihkan, lepaskan semua perlengkapan pelindung dan cucilah tangan dengan air dan sabun.

  • Cucilah pakaian menggunakan air panas atau air sabun yang hangat. Jemurlah dibawah sinar matahari.

  • Letakkan sarung tangan bekas pakai dan benda benda lain yg akan dimusnahkan ke dalam kantung plastik untuk dimusnahkan dengan aman.

  • Bersihkan semua perlengkapan yang bisa dipakai kembali seperti misalnya sepatu boot dan kaca mata pelindung menggunakan air dan deterjen, tapi jangan lupa untuk mencuci tangan setelah memegang benda benda tersebut.

  • Benda benda yang tidak dapat dibersihkan dengan baik harus dimusnahkan.

  • Bersihkan badan/ mandi dengan air dan sabun. Cucilah rambut juga.

  • Hati hati untuk tidak menyentuh lagi pakaian atau benda yang terkontaminasi, atau mengotori lagi area yang telah dibersihkan.

  • Yang paling penting, cucilah tangan setiap selesai menangani benda benda yang terkontaminasi.

  • Alas kaki/sepatu juga harus didekontaminasi.
  • Setelah berjalan di area yang mungkin terkontaminasi ( misalnya: peternakan, pasar, kebun tempat memelihara ayam), bersihkan sepatu sebaik mungkin menggunakan air dan sabun.

  • Pada saat membersihkan sepatu, berhati hati agar tidak ada kotoran yang terpercik ke wajah atau ke baju. Pakailah kantong plastik untuk melindungi tangan, lindungi mata dengan kaca mata atau goggles, tutuplah hidung dan mulut dengan kain/ saputangan.

  • - Tinggalkan sepatu dan sepatu boot di luar rumah sampai kita merasa yakin sepatu tersebut sudah benar benar bersih.
    Orang orang yang menderita gejala flu/pilek sebaiknya lebih berhati hati.
  • WHO percaya bahwa sangatlah penting untuk mencegah penyebaran flu manusia pada area yang terkena flu burung. Apabila flu manusia dan flu burung saling kontak, ada resiko terjadinya pertukaran materi genetis yang bisa menimbulkan terbentuknya jenis virus baru.

  • Setiap orang yang sedang menderita flu/pilek haruslah berhati hati dengan kotoran dari hidung(ingus) dan mulutnya pada saat berada di sekitar orang lain, terutama anak anak, untuk mencegah penularan flu manusia.

  • Tutuplah hidung dan mulut pada waktu batuk atau bersin. Gunakan tissue dan dibuang setelah sekali pakai. Ajarkan anak anak untuk melakukan hal ini juga.

  • Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun setiap sehabis menyentuh kotoran hidung atau mulut karena kotoran tersebut bisa mengandung virus.

  • Anak anak cenderung untuk menyentuh wajah, mata dan mulut dengan tangan yang masih kotor. Ajarkan pada anak anak untuk mencuci tangan setelah batuk, bersih dan menyentuh benda benda yang kotor.

  • Laporkan ke petugas kesehatan segera dan konsultasikan ke ahli kesehatan apabila anda menderita demam dan atau gejala seperti flu.


  • Diterjemahkan dari : "Advice for people living in areas affected by bird flu or avian influenza". 8 November 2004. World Health Organization – Western Pacific Region.
    Sumber: milis